Back to Articles
July 20, 2026Nextjs, AI, Hackathon, UMKM, Ekspor, Gemini

ExportReady AI: Membangun Konsultan Ekspor Virtual untuk UMKM Indonesia, Sendirian

Cerita di balik ExportReady AI proyek saya di Hackathon dan Digdaya 2026 dan kenapa hanya 5% UMKM Indonesia yang berhasil ekspor.

ExportReady AI: Membangun Konsultan Ekspor Virtual untuk UMKM Indonesia, Sendirian

ExportReady AI: Membangun Konsultan Ekspor Virtual untuk UMKM Indonesia, Sendirian

Indonesia punya sekitar 65,5 juta UMKM. Mereka menyumbang lebih dari 60% PDB negara ini. Tapi dari jumlah sebesar itu, hanya sekitar 5% yang pernah ekspor. Angka itulah yang jadi titik berangkat saya membangun ExportReady AI, proyek yang saya kembangkan untuk Hackathon dan Digdaya 2026 di bawah tim "Solo? Me 2" dan ya, namanya bukan kebetulan, karena saya mengerjakan ini sendirian: jadi developer, product manager, business strategist, sekaligus desainer sekaligus.

Kenapa UMKM Susah Ekspor?

Kalau ngobrol dengan pelaku UMKM, alasannya biasanya bukan karena produknya tidak layak jual ke luar negeri. Masalahnya lebih ke:

  • Biaya konsultasi ekspor yang mahal jasa konsultan profesional sering di luar jangkauan UMKM kecil.
  • Birokrasi dan regulasi yang rumit sertifikasi, dokumen, dan aturan tiap negara tujuan berbeda-beda.
  • Tidak tahu harus mulai dari mana pasar mana yang cocok untuk produk mereka, dan apa saja yang perlu disiapkan.

Di sinilah AI bisa berperan bukan sebagai gimmick, tapi sebagai virtual export consultant yang bisa diakses gratis, kapan saja.

Apa yang Dibangun ExportReady AI

Platformnya punya tiga fitur inti:

  1. Export Readiness Scoring menilai kesiapan ekspor UMKM berdasarkan sertifikasi, kapasitas produksi, daya saing harga, dan pengalaman ekspor.
  2. Market Recommendation Engine mencocokkan produk UMKM dengan data volume impor dari UN Comtrade di puluhan negara, jadi rekomendasi pasar tujuan bukan tebakan, tapi berbasis data perdagangan riil.
  3. Export Roadmap Generator memakai Google Gemini dengan pendekatan RAG (Retrieval-Augmented Generation) di atas basis pengetahuan regulasi, sehingga rekomendasi yang keluar tetap berpijak pada sumber yang bisa dilacak, bukan karangan model.

Dalam waktu kurang lebih 30 menit, UMKM bisa mengisi asesmen dan langsung mendapat skor kesiapan ekspor plus roadmap yang siap dieksekusi.

Kenapa RAG, Bukan Fine-Tuning?

Salah satu keputusan teknis yang saya pegang teguh: untuk urusan regulasi ekspor, saya pilih RAG dibanding fine-tuning model. Alasannya sederhana regulasi berubah, dan RAG jauh lebih mudah diperbarui tanpa harus melatih ulang model. Ini juga membuat rekomendasi lebih kredibel karena bisa ditelusuri sumbernya, dan meminimalkan risiko halusinasi pada hal sesensitif panduan hukum.

Statusnya Sekarang

Saya ingin jujur soal ini: ExportReady AI saat ini berada di level prototype yang sudah bisa dicoba langsung, bukan produk yang sudah tervalidasi penuh di pasar. Proses validasi lewat wawancara pengguna dan usability testing masih berjalan. Semua infrastrukturnya pun sengaja dibangun di tingkat gratis (Vercel, Supabase, Gemini API trial) bukti bahwa MVP yang solid tidak harus mahal untuk dibuktikan konsepnya.

Kalau kamu penasaran, prototipenya bisa langsung dicoba di export-ready-ai.vercel.app.

Ke Mana Arahnya

Rencana ke depan:

  • Menyelesaikan validasi product-market fit.
  • Menjajaki kerja sama dengan LPEI dan Kemendag untuk jalur B2G.
  • Membuka kemungkinan pendanaan untuk mempercepat digitalisasi UMKM lewat jalur ini.

Kalau kamu bekerja di ekosistem UMKM, pernah mengalami sendiri sulitnya proses ekspor, atau sekadar penasaran dengan sisi teknisnya, saya senang mendengar masukan kamu.


Lihat detail lengkap proyek ini di halaman resmi Hackathon dan Digdaya 2026:
👉 ExportReady AI di innovation.pidi.id

Coba langsung prototipenya:
👉 export-ready-ai.vercel.app